Minggu, 26 November 2017
Membuka Tabir Peristiwa Jatuhnya Pesawat Tempur Inggris di Cakung
Di Balik Tragedi Jatuhnya Pesawat Udara Tentara Inggris Di Rawa Gatel Cakung Sebelah Timur Cilincing Pada 22 November 1945 Dalam Dua Versi Catatan Sejarah.
The British and Dutch in western Java know Haji Darip as Indonesian General as extremist enemy number one is believed to be the Leader of about 6000 fanatics who wear white shirts and include members of Javanese secret societies. They are mostly youths animated by intense religious fanatics who have been lurking in the south eastern section of batavia since the fighting began.
1.) The Sydney Morning Herald membawa berita tersebut sebagai berikut:
"Wanita Indonesia mengatakan bahwa orang-orang dibawa keluar pada hari Minggu yang lalu dan dijebloskan oleh orang-orang Indonesia, yang mengacungkan pedang, pisau dan tombak. Kisah para istri menuduh seorang jenderal Indonesia Hadji Darip yang memerintahkan pembunuhan tersebut melalui telepon. Orang Inggris dan Belanda di Jawa Barat tahu Hadji Darip sebagai musuh ekstremis Nomer satu. Dia dipercaya menjadi pemimpin sekitar 6.000 orang fanatik yang memakai kaos putih dan anggota masyarakat rahasia Jawa. Mereka kebanyakan adalah pemuda yang digerakkan oleh fanatisme religius yang mengintai di bagian selatan timur Batavia sejak pertempuran dimulai. Saat patroli Punjabi tiba di Bekasi pada hari Jumat desa itu sepi kecuali narapidana di penjara siapa wanita itu. Dia telah dijatuhi hukuman mati karena telah menikahi orang Ambon. Dia mengatakan bahwa 22 pria telanjang diajukan di penjara pada malam 24 November. Mereka berada pada interval sampai sore hari tanggal 25 November, saat mereka dibawa keluar dan satu demi satu dipotong-potong. Sebuah batalion Punjabi dengan tank mortir dan artileri disertai lima muatan mobil koresponden, tiba di Bekasi kemarin.
2.) Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Volume.2
A.H Nasution
DISJARAH AD, Penerbit Angkasa, 1991
Hal.313
Gejolak Perjuangan Revolusi
Terjadi pendaratan darurat sebuah pesawat udara Inggeris di sebelah timur dari Cilincing, dimana anak buah Haji Maksum menguasai daerah. Penumpang-penumpangnya, bangsa Inggeris dan India adalah selamat. Rakyat yang tak mengenal beda Inggeris dengan NICA menganggapnya musuh. Mereka dikepung, ditawan, dan dilucuti. Maka tawanan-tawanan ini digiring ke Klender dimana pasukan Haji Darip yang berkuasa, untuk diputus, diadili, bagaimana nasib "NICA" ini seterusnya. Markas Klender tak sanggup memutuskan perkara ini dan mengirimkannya lebih lanjut ke pusat komando di Bekasi, akan tetapi Panglima Hasibuan sedang berada di Jakarta. Perjalanan yang ditempuh oleh para tawanan ini adalah sangat berat. Rakyat datang berkerumun-kerumun untuk melihat NICA yang tertawan itu. Dimana-mana rakyat telah sedia dengan parang, dan bambu runcing untuk menghabiskan musuh ini. Akhirnya terjadi penganiayaan-penganiayaan yang tak dapat dihindari lagi dan setiba di Bekasi keadaan mereka sudah sangat payah dan beberapa orang sudah dalam keadaan pingsan. Rakyat tidak dapat mengerti, mengapa NICA ini tidak dibunuh saja. Akhirnya para NICA ini menemui ajalnya dengan cara lazim dewasa itu bagi mata-mata musuh atau agen-agen NICA. Mereka tidak dihanyutkan di kali seperti biasa, karena keadaan kurang air, melainkan dikubur dalam satu lobang. Maka Panglima dari Jakarta menyetujui memang hukuman mati bagi NICA ini.
Sabtu, 25 November 2017
Kisah Dua Jenderal Indonesia
Sejarah Kampung Ambon
"Keesokan harinya barang-barang tersebut dibawa ke Cikampek. Selang seminggu kemudian beliau ditugaskan lagi untuk mengambil senjata di daerah Kampung Ambon beserta beberapa buah pedang Belanda. Sampai di Kampung Ambon beliau bertemu dengan beberapa tentara laskar rakyat pimpinan Pak Haji Darip. Setelah berbincang-bincang mereka menanyakan senjata yang tersimpan di daerah Kampung Ambon. Dari pembicaraan itu diperoleh kepastian bahwa senjata yang dimaksud sudah dibawa oleh Pak Haji Darip. Pak Haji Darip juga salah satu pejuang."
Sumber : Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, 1985 - Hal.20.
Kamis, 23 November 2017
Mengenang dan Meluruskan Sejarah Muallim Haji Darip dan Sejarah Pertempuran Klender Jatinegara 1945
Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang Jepang, kemudian juga menghadapi Belanda dan Sekutu. Disebarluaskan anjuran agar mempersenjatai diri dan membentuk Badan Keamanan Rakyat dan Komite Nasional Ranting yang diketuai oleh pimpinan setempat yang disegani. Tumbuhlah kemudian pasukan-pasukan seperti pasukan Muallim Haji Darip di Klender, Pemuda Sawah Besar yang dipimpin oleh Hamid Yunus Lubis, mahasiswa Yakugaku, Pemuda Pasar Senen, Pemuda Menteng, dan lain-lain yang kebanyakan dipimpin mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku, atau Sekolah Tinggi Islam. Dewasa itu Jakarta belum mempunyai pasukan bersenjata, kecuali Polisi Istimewa, antara lain "Barisan Macan" dari Inspektur Kusno Utomo. Kedatangan lebih kurang 500 pasukan dari Bekasi dan sekitarnya merupakan modal kekuatan yang pertama. Pasukan-pasukan ditempatkan dibagian ibukota. Antara lain, terkenal pula dewasa itu pasukan Muallim Haji Darip. Suatu malam terjadi pertempuran dengan NICA di Bidara Cina dan stasiun Jatinegara. Pasukan ini berada di ibukota lebih kurang setengah bulan dengan pos komando berganti-ganti di Pegangsaan 56, Seksi VII Jatinegara, kemudian di Hopbiro Polisi. Senjata-senjatanya bekas rampasan detasemen-detasemen Polisi diluar kota, hasil perlucutan kompi Jepang yang lewat dengan izin Menteri Subarjo di Bekasi, dan senjata bawaan bekas Syodanco Singgih dari Jawa Tengah. Dapur umumnya berada di markas "Merah Putih" Jatinegara. Kekuasaan bersenjata yang sedikit, barisan polisi istimewa dipergunakan untuk mengawal pribadi-pribadi pimpinan kita, karena offencife NICA sudah mulai merupakan teror untuk menggoncangkan batin kaum terpelajar kita. BKR diadakan, akan tetapi masih perlu waktu untuk menyusun diri dan masih perlu pula peralatan. Buat taraf yang pertama ia baru merupakan pos-pos pengurus belaka. Dalam vacuum ini didatangkan pasukan dari Klender, Bekasi, Cikarang, dan Cakung, yang dipimpin oleh Hasibuan dari Bekasi (yang secara populer dinamai "Panglima" dewasa itu) serta Muallim Haji Darip dan kemudian dikuasakan oleh pimpinan negara menanggung jawab pertahana Jakarta (Timur) dan sekitarnya. Lebih kurang setengah bulan pasukan-pasukan ini menduduki ibukota, khusus bagian-bagian Tenggara dan Timur.
Pada waktu itu BKR berkedudukan di pabrik es sebelah asrama brimob cipinang sekarang, sedangkan kesatuan-kesatuan yang dipimpin Muallim Haji Darip terpencar di seluruh Jatinegara dan Muallim Haji Darip tetap aktip melakukan tugas spionase untuk kepentingan pejuang-pejuang RI. Klender Waktu Itu Masih Sangat Sepi, Apalagi Malam Hari. Sekitar Daerah Sana Masih Merupakan Hutan Lebat. Pitoyo Yang Bersenjatakan Pistol Vickers Parabellum Berjaga-jaga Seorang Diri Di Teras Rumah. Ia Selalu Awas Dan Waspada. Menjelang Tengah Malam, Keluarga Haji Darip Menyajikan Nasi Hangat, Sayur, Emping Goreng, Dan Sambal Kemiri. "Nikmatnya masih terasa hingga sekarang" kata Pitoyo mengenang masa itu.
Pada tanggal 11 oktober 1945, serdadu-serdadu Belanda dan Inggris menggempur Klender. Selain mengerahkan Infanteri, mereka mengerahkan kendaraan-kendaraan berlapis baja dan pesawat terbang. Kekuatan musuh tertumpah ke daerah ini. Senjata-senjata berat musuh menghantam Klender sebagai pintu gerbang menuju Bekasi. Pasukan sekutu bergerak terus dengan didahului tank-tank raksasa. Muallim Haji Darip pemimpin laskar Klender yang sangat terkenal dan setia kepada Republik itu tidak dapat mempertahankan daerahnya. Klender jatuh ke tangan musuh dan dengan terpaksa daerah itu di tinggalkan oleh para laskar dan TKR.
19 Desember 1945 dengan menggunakan berpuluh-puluh truk serdadu Belanda yang dibantu serdadu Inggris dan Gurkha menggerebeg penjara Cipinang, pasukan Muallim Haji Darip menggagalkan usaha mereka. Maksudnya untuk membebaskan tawanan-tawanan Belanda. Penjara Cipinang adalah salah satu benteng pasukan-pasukan Bekasi. Markas pimpinan pertempuran biasanya bertempat di Seksi VII Polisi Jatinegara. Pada Waktu Pengakuan Kedaulatan R.I 1949, Muallim Haji Darip Kembali Ke Jatinegara, Menyusun Kekuatan Yang Ada, Dan Tidak Lupa Memberikan Penerangan-penerangan Yang Bermanfaat Bagi Pembangunan Kepada Rakyat. Muallim Haji Darip yang Selama Revolusi Fisik Aktif Berjuang, Berkorban, Giat Melancarkan Penyerbuan-penyerbuan, dengan Mempertaruhkan Jiwa Raganya untuk Kepentingan Nusa Dan Bangsanya, Karena Perjuangannya Itu Adalah Perjuangan Yang Suci Menegakkan Negara Republik Indonesia, Maka Selesai dalam Tugasnya, Ia Hidup Sebagai Rakyat Biasa, Ia Tidak Menuntut Jasa Dan Ia Tidak Menghendaki Balas Jasa.
Sumber : Dalam Gambar
Minggu, 19 November 2017
Pertempuran Klender 1945
- Pada tanggal 11 oktober 1945, serdadu-serdadu Belanda dan Inggris menggempur Klender. Selain mengerahkan Infanteri, mereka mengerahkan kendaraan-kendaraan berlapis baja dan pesawat terbang. Kekuatan musuh tertumpah ke daerah ini. Senjata-senjata berat musuh menghantam Klender sebagai pintu gerbang menuju Bekasi. Pasukan sekutu bergerak terus dengan didahului tank-tank raksasa. Haji Darip pemimpin laskar Klender yang sangat terkenal dan setia kepada Republik itu tidak dapat mempertahankan daerahnya. Klender jatuh ke tangan musuh dan dengan terpaksa daerah itu di tinggalkan oleh para laskar dan TKR.
Sumber : DISJARAH AD, 1974, Mimbar Sejarah, Sastra, dan Budaya Fakultas IAIN Syarif Hidayatulloh, 2001.
Sabtu, 18 November 2017
Kyai Haji Darip Pahlawan Kemerdekaan Tanpa Pamrih
Pada Waktu Pengakuan Kedaulatan R.I 1949, Haji Darip Kembali Ke Jatinegara, Menyusun Kekuatan Yang Ada, Dan Tidak Lupa Memberikan Penerangan-penerangan Yang Bermanfaat Bagi Pembangunan Kepada Rakyat. Haji Darip yang Selama Revolusi Fisik Aktif Berjuang, Berkorban, Giat Melancarkan Penyerbuan-penyerbuan, dengan Mempertaruhkan Jiwa Raganya untuk Kepentingan Nusa Dan Bangsanya, Karena Perjuangannya Itu Adalah Perjuangan Yang Suci Menegakkan Negara Republik Indonesia, Maka Selesai dalam Tugasnya, Ia Hidup Sebagai Rakyat Biasa, Ia Tidak Menuntut Jasa Dan Ia Tidak Menghendaki Balas Jasa.
Sumber : DINAS SEJARAH MILITER ANGKATAN DARAT KODAM 5 JAYA, 1975
Klender Punya Sejarah
Klender Waktu Itu Masih Sangat Sepi, Apalagi Malam Hari. Sekitar Daerah Sana Masih Merupakan Hutan Lebat. Pitoyo Yang Bersenjatakan Pistol Vickers Parabellum Berjaga-jaga Seorang Diri Di Teras Rumah. Ia Selalu Awas Dan Waspada. Menjelang Tengah Malam, Keluarga Haji Darip Menyajikan Nasi Hangat, Sayur, Emping Goreng, Dan Sambal Kemiri. "Nikmatnya Masih Terasa Hingga Sekarang," Kata Pitoyo Mengenang Masa Itu.
Kamis, 16 November 2017
The Indonesian General Kyai Haji Darip Van Klender Batavia 1945
From Klender Village.An Ordinary People Background of Islamic Teachers Then Became the Commander-in-Chief of War of the Japanese and Dutch Invaders from Indonesia.
Rare Of Photo's Soekarno Great Leader of the Revolution
Some Lost History Facts About the Relationship of Mr. Soekarno's Relationship with General Kyai Haji Darip And That Bung Karno Ever / Even Often Come to Meet Kyai Haji Darip To Ask For Advice, Set War Strategy and Leading a Great Meeting In Klender In Order to Prepare, Fuel the Spirit of People's Struggle as the Gate of Defense of the Republic To Participate in Defending the Proclamation of Independence of the Republic of Indonesia 17 August 1945.
Langganan:
Komentar (Atom)


































