Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang Jepang, kemudian juga menghadapi Belanda dan Sekutu. Disebarluaskan anjuran agar mempersenjatai diri dan membentuk Badan Keamanan Rakyat dan Komite Nasional Ranting yang diketuai oleh pimpinan setempat yang disegani. Tumbuhlah kemudian pasukan-pasukan seperti pasukan Muallim Haji Darip di Klender, Pemuda Sawah Besar yang dipimpin oleh Hamid Yunus Lubis, mahasiswa Yakugaku, Pemuda Pasar Senen, Pemuda Menteng, dan lain-lain yang kebanyakan dipimpin mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku, atau Sekolah Tinggi Islam. Dewasa itu Jakarta belum mempunyai pasukan bersenjata, kecuali Polisi Istimewa, antara lain "Barisan Macan" dari Inspektur Kusno Utomo. Kedatangan lebih kurang 500 pasukan dari Bekasi dan sekitarnya merupakan modal kekuatan yang pertama. Pasukan-pasukan ditempatkan dibagian ibukota. Antara lain, terkenal pula dewasa itu pasukan Muallim Haji Darip. Suatu malam terjadi pertempuran dengan NICA di Bidara Cina dan stasiun Jatinegara. Pasukan ini berada di ibukota lebih kurang setengah bulan dengan pos komando berganti-ganti di Pegangsaan 56, Seksi VII Jatinegara, kemudian di Hopbiro Polisi. Senjata-senjatanya bekas rampasan detasemen-detasemen Polisi diluar kota, hasil perlucutan kompi Jepang yang lewat dengan izin Menteri Subarjo di Bekasi, dan senjata bawaan bekas Syodanco Singgih dari Jawa Tengah. Dapur umumnya berada di markas "Merah Putih" Jatinegara. Kekuasaan bersenjata yang sedikit, barisan polisi istimewa dipergunakan untuk mengawal pribadi-pribadi pimpinan kita, karena offencife NICA sudah mulai merupakan teror untuk menggoncangkan batin kaum terpelajar kita. BKR diadakan, akan tetapi masih perlu waktu untuk menyusun diri dan masih perlu pula peralatan. Buat taraf yang pertama ia baru merupakan pos-pos pengurus belaka. Dalam vacuum ini didatangkan pasukan dari Klender, Bekasi, Cikarang, dan Cakung, yang dipimpin oleh Hasibuan dari Bekasi (yang secara populer dinamai "Panglima" dewasa itu) serta Muallim Haji Darip dan kemudian dikuasakan oleh pimpinan negara menanggung jawab pertahana Jakarta (Timur) dan sekitarnya. Lebih kurang setengah bulan pasukan-pasukan ini menduduki ibukota, khusus bagian-bagian Tenggara dan Timur.
Pada waktu itu BKR berkedudukan di pabrik es sebelah asrama brimob cipinang sekarang, sedangkan kesatuan-kesatuan yang dipimpin Muallim Haji Darip terpencar di seluruh Jatinegara dan Muallim Haji Darip tetap aktip melakukan tugas spionase untuk kepentingan pejuang-pejuang RI. Klender Waktu Itu Masih Sangat Sepi, Apalagi Malam Hari. Sekitar Daerah Sana Masih Merupakan Hutan Lebat. Pitoyo Yang Bersenjatakan Pistol Vickers Parabellum Berjaga-jaga Seorang Diri Di Teras Rumah. Ia Selalu Awas Dan Waspada. Menjelang Tengah Malam, Keluarga Haji Darip Menyajikan Nasi Hangat, Sayur, Emping Goreng, Dan Sambal Kemiri. "Nikmatnya masih terasa hingga sekarang" kata Pitoyo mengenang masa itu.
Pada tanggal 11 oktober 1945, serdadu-serdadu Belanda dan Inggris menggempur Klender. Selain mengerahkan Infanteri, mereka mengerahkan kendaraan-kendaraan berlapis baja dan pesawat terbang. Kekuatan musuh tertumpah ke daerah ini. Senjata-senjata berat musuh menghantam Klender sebagai pintu gerbang menuju Bekasi. Pasukan sekutu bergerak terus dengan didahului tank-tank raksasa. Muallim Haji Darip pemimpin laskar Klender yang sangat terkenal dan setia kepada Republik itu tidak dapat mempertahankan daerahnya. Klender jatuh ke tangan musuh dan dengan terpaksa daerah itu di tinggalkan oleh para laskar dan TKR.
19 Desember 1945 dengan menggunakan berpuluh-puluh truk serdadu Belanda yang dibantu serdadu Inggris dan Gurkha menggerebeg penjara Cipinang, pasukan Muallim Haji Darip menggagalkan usaha mereka. Maksudnya untuk membebaskan tawanan-tawanan Belanda. Penjara Cipinang adalah salah satu benteng pasukan-pasukan Bekasi. Markas pimpinan pertempuran biasanya bertempat di Seksi VII Polisi Jatinegara. Pada Waktu Pengakuan Kedaulatan R.I 1949, Muallim Haji Darip Kembali Ke Jatinegara, Menyusun Kekuatan Yang Ada, Dan Tidak Lupa Memberikan Penerangan-penerangan Yang Bermanfaat Bagi Pembangunan Kepada Rakyat. Muallim Haji Darip yang Selama Revolusi Fisik Aktif Berjuang, Berkorban, Giat Melancarkan Penyerbuan-penyerbuan, dengan Mempertaruhkan Jiwa Raganya untuk Kepentingan Nusa Dan Bangsanya, Karena Perjuangannya Itu Adalah Perjuangan Yang Suci Menegakkan Negara Republik Indonesia, Maka Selesai dalam Tugasnya, Ia Hidup Sebagai Rakyat Biasa, Ia Tidak Menuntut Jasa Dan Ia Tidak Menghendaki Balas Jasa.
Sumber : Dalam Gambar





Tidak ada komentar:
Posting Komentar